Menembus Batas Kemiskinan ala PEBE

 Rasika Sragentina,  16-02-2013 10:43:21

  

pe-be-01Adalah Pujono Elli Bayu Efendi, atau kerap disapa PEBE. Pria kelahiran 26 Maret 1975 asal desa Banyuasin, Ngawi, Jawa Timur itu telah berhasil membuka mata kebanyakan orang bahwa kemiskinan bukanlah akhir segalanya. Terlahir di pinggiran hutan dengan kondisi lingkungan yang gersang, membuat PEBE dan masyarakat sekitar hidup dalam kemiskinan. Sejak dalam kandungan, sang ayah pergi meninggalkan rumah tanpa alasan. Setelah PEBE lahir, sang ibu menitipkannya kepada nenek dan kakeknya untuk diasuh, sebab sang ibu merantau untuk menafkahi keluarga. Ketika memasuki usia sekolah, oleh sang nenek PEBE kemudian disekolahkan di SD Negeri 2 Banyuasin. Adalah hal yang sangat lumrah ketika berangkat sekolah dengan kondisi perut kosong sebab tidak ada nasi yang bisa dimakan untuk sarapan. Memasuki kelas 3 SD, timbul rasa iri PEBE kepada teman sebayanya yang bisa jajan saat jam istirahat sebab diberi uang saku oleh orang tuanya. Bermula dari itulah PEBE memberanikan diri berjualan es dengan maksud agar memiliki uang untuk jajan. Hal itu dilakoninya hingga kelas 6 SD tanpa rasa malu.


pe-be-02Lulus SD, PEBE kemudian memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMP Negeri 2 Widodaren, Ngawi. Memasuki usia yang beranjak remaja, PEBE mulai didera rasa malu untuk berjualan, terutama kepada lawan jenis. Praktis, dia hanya berjualan setiap hari Sabtu dan Minggu saja. Karena hasil jualan dirasa tidak lagi memenuhi kebutuhannya seperti saat masih SD dulu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya dan lebih memilih menggelandang ke Sragen dan bermukim di stasiun. Saat menggelandang itulah ritme hidup PEBE perlahan mulai tidak teratur. Tidak sekolah, tidak pula bekerja. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia mengandalkan sisa makanan yang dibuang penumpang ataupun orang-orang yang berlalu-lalang di stasiun. Satu bulan hidup “menggelandang”, ia akhirnya bertemu dengan seseorang bernama Pak Purwadi. Singkat cerita, oleh Pak Purwadi ia kemudian disuruh tinggal di rumah kontrakannya dan disekolahkan di SMP Al Mukmin Sragen. Saat itu Pak Purwadi paham jika PEBE sudah mahir berdagang, maka dari itu PEBE diberi kepercayaan penuh untuk mengelola penjualan brem miliknya.


pe-be-03
PEBE pernah bercita-cita menjadi seorang tentara. Oleh karena itu untuk mewujudkan cita-citanya, ia bertekad melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Teknik Penerbangan (SMTP) Solo begitu lulus dari SMP Al Mukmin. Karena ada satu dan beberapa hal, PEBE akhirnya memutuskan tidak melanjutkan cita-citanya dan lebih memilih untuk tetap berdagang. Awal perjumpaan dengan sang istri diakui PEBE di luar rencana. PEBE tidak pernah mengenal pacaran, sebab dia merasa sadar diri bukan anak orang berada. Kondisi ekonomi yang dialaminya cukup membuat minder untuk mendekati lawan jenis saat itu. Namun, Tuhan memang sudah membuat rencana untuk PEBE. Sang istri waktu itu sering berangkat sekolah satu bis dengannya. Lama-kelamaan perasaan suka mulai timbul dalam hati PEBE. Untuk membuktikan keseriusannya, PEBE akhirnya memutuskan untuk menikah begitu lulus dari SMTP, tentu saja dengan berbagai penolakan dari keluarga sang istri.


pe-be-031
Selepas menikah dengan sang istri, PEBE tinggal di rumah mertuanya dan tetap menjajakan asongannya hingga dikaruniai 2 orang anak. Karena berbagai tekanan dari keluarga sang istri, PEBE akhirnya memutuskan untuk mengajak istrinya tinggal di rumah kontrakan yang sangat sederhana. Berkat keuletan dan kegigihannya, dari hasil asongannya itu PEBE akhirnya bisa membeli tanah dan membangun rumah sederhana di atasnya. Demi mencapai taraf hidup yang lebih baik, PEBE mencoba melamar pekerjaan di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tiga tahun bekerja di PT KAI ternyata tidak cukup membuat PEBE nyaman. Dia merasa dunianya adalah dunia dagang, sehingga ia memutuskan untuk keluar dan kembali menggeluti usaha lamanya. Inilah awal kesuksesan PEBE. Ia mulai merambah objek yang bisa diperdagangkan, seperti topi kulit, wingko, hingga merambah pasar. Perlahan namun pasti usaha PEBE mulai menunjukkan peningkatan drastis. Dari hanya seorang penjaja asongan, kini PEBE sudah memiliki 38 kios di Pasar Bunder Sragen.


pe-be-051Menjadi pengusaha sukses tidak menjadikan PEBE lupa daratan. Ia memiliki cita-cita untuk memuliakan kaum miskin, terutama di Sragen. Dunia politik sepertinya memang bukan dunia PEBE. Akan tetapi dengan melalui jalur politik, ia akan menemukan cara bagaimana memuliakan kaum papa tersebut. Ketertarikannya untuk masuk ke ranah politik bukan semata-mata finansial belaka, akan tetapi lebih ke bagaimana membuat orang miskin menjadi semakin baik taraf hidupnya. PEBE berpesan kepada para pengasong yang ingin sukses seperti dirinya. Mengasong bukanlah suatu kegiatan buruk, jadi tidak perlu minder. Yang menjadi catatan adalah bahwa jiwanya haruslah jiwa pengusaha meski raganya adalah pengasong. Dengan prinsip demikian, bukan mustahil jika suatu saat sudah tidak lagi mengasong, bisa menjadi pelaku usaha.


Inilah sepenggal perjalanan kisah hidup seorang manusia. PEBE mengajarkan kepada kita semua bahwa kesabaran, keuletan, pantang menyerah, dan mau berusaha adalah sebuah kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik. Sebuah keberhasilan tidaklah mungkin didapat secara instan, melainkan melalui berbagai tempaan dan liku-liku yang mungkin bagi sebagian orang adalah titik akhir. Semoga menembus batas kemiskinan yang telah dilakukan oleh PEBE mampu menjadi inspirasi bagi kita semua. (Win86)

Tags: , , , , ,

Komentar

Counting


LATEST TUNE-IN


  • 27 Mar 2013 09:36
    PUJO BAYU MENULIS DALAM BUKU NYA YANG DIKASIH TAJUK "MENEMBUS BATAS KEMISKINAN"


  • 14 Mar 2013 09:25
    dukung PEBE


  • 04 Mar 2013 15:59
    Contoh Konten yg bisa anda dengarkan di www.rasikasragentina.co.id


  • 04 Mar 2013 08:41


  • 25 Feb 2013 08:49
    berawal dari NOL.....